Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan perkembangan positif dalam upaya memperkuat perekonomian dan memperluas kesempatan kerja. Di tengah tantangan ekonomi global, investasi terus mengalir dan tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan. Capaian ini menjadi salah satu indikator penting bagi upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data per Mei 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,65 persen. Angka tersebut menjadi salah satu yang terendah dalam sejarah Indonesia, sekaligus mencerminkan perkembangan pasar tenaga kerja nasional. Meski demikian, tantangan untuk menyediakan pekerjaan yang layak dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat masih perlu terus diatasi.
Salah satu pendorong penciptaan lapangan kerja adalah peningkatan investasi. Sejak triwulan IV 2024 hingga triwulan III 2026, total realisasi investasi mencapai Rp3.923,2 triliun. Investasi tersebut menjadi modal penting untuk mendorong kegiatan produksi, memperluas kapasitas usaha, dan membuka kesempatan kerja di berbagai sektor ekonomi.
Dampaknya terhadap ketenagakerjaan juga terlihat dari total penyerapan tenaga kerja yang mencapai 5.485.944 orang selama periode tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa investasi tidak hanya berkaitan dengan penambahan modal, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui kesempatan memperoleh pekerjaan dan penghasilan.
Menariknya, persebaran investasi menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa. Investasi di luar Jawa mencapai Rp2.031 triliun atau 51,8 persen dari total investasi. Sementara itu, Pulau Jawa mencatat investasi sebesar Rp1.892,2 triliun atau 48,2 persen. Komposisi ini memperlihatkan besarnya peran wilayah luar Jawa dalam menarik modal dan menggerakkan perekonomian nasional.
Pemerataan investasi tersebut penting untuk memperluas kesempatan kerja di berbagai daerah. Dengan semakin berkembangnya kegiatan usaha di luar Jawa, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan tanpa harus selalu berpindah ke pusat-pusat ekonomi utama. Namun, manfaatnya akan semakin optimal apabila investasi juga memperkuat keterlibatan tenaga kerja lokal dan usaha kecil di daerah.
Pengamat ekonomi Yusuf Wibisono turut menyoroti hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan perbaikan ketenagakerjaan. Ia menyatakan, “Pertumbuhan ekonomi 5,61% juga diiringi perbaikan di sektor ketenagakerjaan, dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) Februari 2026 tercatat 4,24 persen, turun 0,09 poin dibandingkan Februari 2025.” Pernyataan ini menegaskan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan manfaat nyata bagi pasar kerja.
Ke depan, tantangan pemerintah bukan hanya mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi, tetapi juga memastikan pekerjaan yang tercipta memiliki upah layak, perlindungan memadai, serta prospek karier yang baik. Kualitas tenaga kerja, kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri, dan pemerataan kesempatan kerja perlu terus diperkuat agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih luas.
Dengan investasi yang mencapai ribuan triliun rupiah, penyerapan tenaga kerja lebih dari 5,4 juta orang, serta persebaran investasi yang relatif berimbang antara Jawa dan luar Jawa, pemerintah memiliki fondasi untuk memperluas kesempatan ekonomi. Keberhasilan pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan mengubah pertumbuhan tersebut menjadi pekerjaan produktif, pendapatan yang lebih baik, dan kesejahteraan yang semakin merata bagi masyarakat Indonesia.




