JAKARTA – Founder dan CEO Astronacci, Gema Goeyardi, menyoroti maraknya narasi krisis dan distopia di media sosial, yang diduga sengaja dibangun oleh kelompok tertentu.
Ia menyampaikan hal itu dalam diskusi panel Malam Apresiasi Emiten (MAE) 2026 di Hotel Fairmont Jakarta, Kamis (5/11).
Gema menilai terdapat kesenjangan antara kondisi ekonomi yang sebenarnya, dengan persepsi kepanikan di media sosial.
Ia menyinggung penggunaan simbol tiga jari yang terinspirasi dari film Hunger Games, sebagai simbol perlawanan terhadap tirani kapital.
Namun framing tersebut seolah menggambarkan Indonesia, berada dalam kondisi separah yang ditampilkan dalam Hunger Games, serta berisiko memicu keresahan sosial.
Ia juga menduga terdapat tangan-tangan kotor, yang ingin menciptakan ketidakpercayaan publik dan disintegrasi, di tengah tekanan ekonomi dari dalam maupun luar negeri.
Di sisi lain, Gema mengakui keluhan masyarakat mengenai tekanan ekonomi merupakan persoalan nyata, yang tidak boleh diabaikan pemerintah.
Ia menilai kebijakan belanja negara saat ini, lebih banyak menyasar masyarakat bawah dan perburuan aset oligarki, sementara kelompok kelas menengah atau middle-income society tersisa sekitar 17% dan kurang mendapat perhatian.
Meski demikian, Gema mengimbau pelaku pasar modal dan korporasi, agar tetap objektif serta tidak mudah terbawa kepanikan di media sosial.
Menurutnya, fleksibilitas sektor riil dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi bantalan, yang dapat menopang ketahanan ekonomi domestik.




