Isu demonstrasi besar-besaran pada 10 November semakin ramai diperbincangkan di media sosial. Seruan untuk turun ke jalan bermunculan dengan pesan dan narasi yang hampir senada. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai siapa sebenarnya pihak yang berada di balik gerakan tersebut.
Masifnya penyebaran ajakan aksi dengan pola pesan yang seragam patut dicermati. Bukan tidak mungkin, isu demonstrasi ini merupakan bagian dari operasi politik yang sengaja dibangun untuk menggiring opini dan memobilisasi masyarakat.
Ada dugaan gerakan tersebut digalang oleh kelompok oligarki dan elite politik yang merasa terdesak oleh berbagai langkah bersih-bersih yang dilakukan pemerintah. Kelompok yang kepentingannya terganggu berpotensi memanfaatkan keresahan publik untuk menciptakan tekanan politik.
Skenario yang perlu diwaspadai adalah upaya mengadu domba masyarakat dengan pemerintah. Situasi yang awalnya berupa penyampaian aspirasi bisa saja berkembang menjadi kerusuhan apabila ditunggangi pihak-pihak yang memiliki agenda politik tertentu.
Demonstrasi tentu merupakan hak warga negara dan kritik adalah bagian penting dari demokrasi. Namun, masyarakat perlu memastikan bahwa aksi yang diikuti benar-benar memiliki tujuan yang jelas, bukan justru menjadi alat untuk menciptakan instabilitas keamanan nasional.
Publik juga perlu berhati-hati terhadap narasi yang mengarah pada makar atau penggulingan kekuasaan. Perbedaan pendapat dan kritik terhadap pemerintah tidak boleh dimanipulasi menjadi gerakan yang mengancam stabilitas negara.
Sementara itu, kabar mengenai keterlibatan aktivis 1998 dalam aksi 10 November masih belum menemukan kejelasan. Aktivis 1998 sekaligus Direktur Lingkar Madani, Ray Rangkuti, menyatakan bahwa di lingkaran aktivis 1998 yang dikenalnya belum ada pembahasan maupun persiapan untuk turun ke jalan pada tanggal tersebut.
Ray pun mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap seruan demonstrasi yang mendadak ramai di media sosial. Keaslian informasi, pihak penggerak, serta tujuan gerakan perlu diperiksa sebelum masyarakat memutuskan untuk ikut terlibat.
Menurutnya, kejelasan motor penggerak dan basis kampus merupakan indikator penting untuk menilai kemurnian sebuah gerakan. Hal ini perlu menjadi perhatian agar demonstrasi tidak sekadar menjadi kendaraan bagi kepentingan kelompok tertentu.
Karena itu, masyarakat harus tetap kritis dan tidak mudah dimobilisasi oleh narasi yang belum terverifikasi. Jangan sampai semangat menyampaikan aspirasi justru dimanfaatkan pihak-pihak berkepentingan untuk memecah belah masyarakat, memancing kerusuhan, dan mengganggu stabilitas nasional.




